Review

19

Sobat MMBlog sekalian, review, adalah sebuah kata yang berasal dari Bahasa Inggris. Kalau di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, padanan yang paling pas dan paling komunikatif untuk menjelaskan kata review adalah “ulasan”. Nah, beberapa hari ini, viral dan ramai sekali di dunia maya, khususnya roda dua, sebuah review tentang motor baru yang fenomenal, dan review ini juga menjadi viral, heboh, sampai dibahas di media online berskala nasional. Waduh, emang kayak gimana reviewnya?

MMBlog gak akan panjang lebar ngebahas review yang bersangkutan. Udahlah, udah selesai juga kayaknya sih :mrgreen: (bae bae ya mas :mrgreen: ). Tapi MMBlog tergelitik untuk mereview tentang review itu sendiri. Review, atau ulasan, pasti ada motifnya kok, segala sesuatu pasti ada latar belakangnya. Entah itu murni sharing, entah itu nyari views, nyari massa, nyari duit, sah-sah aja. Kalau temen-temen nanya, apa motivasi MMBlog melakukan sebuah review atau ulasan. Jujur Sob, untuk sharing yang pertama, yang kedua adalah untuk “asah rasa”. MMBlog pernah belajar sastra secara formal, setidaknya, pengen lah bisa menuangkan apa yang MMBlog rasa, disebuah tulisan, dan tulisan itu, bisa dinikmati, dan dirasakan sama yang membaca. Dapet duit? Dapet kunjungan? Ya itu bonus aja, swear!.

Lanjut lagi ke review. Review itu hadir berdasarkan olah rasa yang dirasakan oleh panca indera dan jiwa/soul dari seseorang. Review, juga hadir dengan banyak faktor luar seperti lingkungan. Jadi, review itu unsur subjektifitasnya tinggi. Ngomongin review jujur apa enggak, harusnya sih semua review jujur yah apa adanya, ya karena review adalah “ulasan versi dia”. Di sini menariknya, MMBlog mau memberikan sebuah insight, kalau ternyata, sebenernya enggak semua orang itu bisa melakukan yang namanya review! Ah serius? Ya bisa aja pake atau riding, tapi buat jelasin? Ba-Bi-Bu!

Seperti yang lagi viral, motor baru tapi suspensi depan mengeluarkan suara kasar, jedak jedok. Apakah itu bisa masuk ke dalam sebuah review? I don’t think so, MMBlog rasa enggak. Di omongin sih silahkan, di ekspose juga silahkan, tapi harusnya, selanjutnya hal seperti ini masuknya ke ranah klaim, keluhan produk. Coba dibicarakan dengan pihak yang bersangkutan, representatif ATPM misalnya. Di cari solusinya, kalau beres dan normal alhamdulillah, tapi kalau tetap begitu, berarti ya betul begitu motornya. – dengan rider bobot 130 Kg, suspensi depan motor X akan mengeluarkan suara benturan apabila dihantam poldur dengan kecepatan sekian.

Sederhananya gini, ini bukan masuk ke wilayah review (ulasan), tapi masuk ke wilayah issue (masalah).

Beberapa bulan yang lalu, MMBlog pernah dipinjami Suzuki GSX150 Bandit. Ini motor MMBlog pakai harian, sering banget riding. Impresi berkendara udah jelas ada, tapi ini motor klep-nya agak berisik Sob. entah klep, entah keteng, entah tensioner, kayak ada suara rattling. Apakah masuk ke review? Lagi dan lagi, ini masuknya ke ranah klaim, atau keluhan, atau issue. Issue, bukan sesuatu yang bisa digeneralisir, perkara issue adalah perkara substansial. Review, kita tulis, dibaca, selesai. Issue, butuh sebuah solusi dan penyelesaian, dengan pihak ke-3 misalnya (ATPM).

MMBlog sendiri selain demen nulis review atau bikin review, MMBlog juga suka nonton, baca, atau nanya perkara review. Seru aja sih, jadi bisa bikin sebuah frame-work sendiri tentang sebuah objek. Review-review itu jadi kayak puzzle. Ada yang reviewnya jelas, clear, tapi ada juga yang butek, dan malah mbingungi :mrgreen: . MMBlog pernah nanya sama orang yang pernah pakai Yamaha XJR400 (secara MMBlog pengen ini motor), ditanya minta pendapat, minta review, dia jawabnya apa “enak kok mas” MMBlog tanya lagi “enaknya gimana mas?”, “pokoknya enak mas, buktinya saya bisa lama pakainya” “tarikannya gimana mas?” “ya kenceng mas, empat silinder 400 cc lah” asiap :mrgreen: . karena MMBlog bisanya bahasa Indonesia dan sedikit bahasa Inggris, makanya yang MMBlog baca ya review dari dua bahasa itu Sob. sama seru, adalah baca komentar-komentar dari netizennya, kalau di luar negeri komennya mantep, contoh:

MCN itu, dulu, suka agak setengah-setengah atau underestimate kalau ngasih review buat motor-motor dua silinder, istilahnya budget bike lah. ya kayak SV650, ER6, CB500, dll. Ada komen yang menarik, kata-katanya gini kurang lebih kalau diterjemahin “motor yang baik dan bagus menurut MCN sepertinya hanya dari motor empat silinder dan motor sport, lainnya, seperti kertas pembungkus burger” 😆 . Tapi sekarang udah mantep sih, bisa banget jadi tambahan referensi yang terpercaya dan kredibel.

Ada juga Youtube men and motors, itu channel lawas tuh. MMBlog pernah nonton review ketika tim mencoba untuk menjelaskan riding experience dengan menggunakan Suzuki GS500E (motor lawas Suzuki dua silinder segaris). Reviewernya udah agak tua, bilang ini motor “awful” intinya Sob. terus komentatornya bilang apa? “loe bisa bawa motor apa enggak sih?” “mending bapak ngopi aja sore-sore, dari pada test motor, kasian pinggang pak”. Atau pas ngereview Royal Enfield, bilang kalau motor ini adalah motor rusak, wkwkwk, ya gak bisa gitulah 😆 . akan apik dan keren kalau reviewer bilang “motor ini bukan buat gue”, karena apa? Bla..bla..bla..

Jadi gimana? Balik lagi, Review (rifiu) dan issue (isyu), tentunya kudu bisa bedain yah Sob.

19 COMMENTS

  1. betul mas.
    antara review dan issue bisa menjadi dua hal yang berbeda.

    tapi menurut saya jika objeknya (motor/mobil) >> pinjaman vs punya sendiri juga mestinya ulasan review dan issuenya berbeda.

    Menurut saya video yang sedang viral itu gak salah. Karena yang objeknya punya sendiri. Punya pribadi. Yah mirip-mirip jika ada blogger/vlogger yang mereview koleksi kendaraan pribadinya.

    Nah bahasa atau deskripsi atau pendekatan yang berbeda memang seyogyanya dilakukan jika objek yang direview adalah barang pinjaman. Ya seperti yang mas jelaskan di artikel ini (review-issue).

    Tinggal bagaimana pemirsa / pembaca menanggapinya dengan bijak dan cerdas.

    …Just my two cents…

    • Bahasa atau deskripsi atau pendekatan, rasanya harus tetap sama, antara properti milik sendiri atau pinjaman. Mungkin bedanya hanya bila produk milik sendiri, maka reviewer akan lebih bebas “menyiksa” produk sesuka dia
      Karena review akan dibaca/ditonton oleh khalyak umum/publik dg beragam latar belakang pendidikan dan pengalamannya, ini yg harus diperhatikan reviewer.

      Bijaknya adalah dalah review tsb tetap perlu tersampaikan, hal mana saja yg masuk kategori “issue” utk ditindak lanjuti oleh pihak yg tepat (baik itu barang milik, atau pinjaman)

  2. Wait wait, review kalo menurut ai sih apa yang dirasakan, elu ngerasa ada yang ga sesuai dan elu katakan ya itu review, review menghasilkan issue yang harus disikapi dengan bijak oleh pabrikan yang direview.

    Bukan dengan kill the messenger dengan bilang elu kegendutan sih dll, itu engga bijak dan ga menyelesaikan masalah yang dirasakan oleh reviewer tsb. Setiap motor punya beban max kan, patokan itu bisa dipergunakan kok, kalo emang 130 kg udah ga kuat ya tulis aja max 100kg gt. Bukannya bodyshaming ke user ya

  3. Udah adem ya Mas yg dari Bekakas itu?haha, saya ga ngerti motifnya apa dgn beraninya bikin review spt itu, bisa menyesatkan untuk orang yg sama sama ga tau, tim ATPM sptnya gerak cepat jg, mantap!!

  4. “Gimana mas apakah puas atau kecewa?”
    “Saya kecewa sama motornya”
    “Trus gimana kelanjutannya apakah mau dipakai atau dijual?”
    “Kayanya udh cukup, saya pakai satu dua hari trus langsung saya jual, sudah ada yg mau juga, biar harganya ga jatuh”

    Sedikit dialog mereka.
    Cmiiw

  5. Saya curiga mas vandra bikin artikel beginian mesti gara gara kena trigger. Habis blogwalking dugaan saya 80% benar hehehe

  6. Kalo sudah dirasakan sendiri itu bukan issue, tapi sudah review.
    Emang beda- review rasa blogger ama nitizen.
    Emang mau elu pade kagak di undang AtPM.
    😄

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here