Fansboy Atau Brand Advocate, Plus Minusnya Pasti Ada!

5
kalau saya pembela kebenaran!

Sobat MMBlog sekalian, belakangan ini, dunia permotoran di tanah air lagi seru karena dibombardir sama berbagai macam produk baru, beserta dengan reviewnya yang masif! Dari sini, munculah yang namanya fansboy. Ketika merek A mengeluarkan satu produk, maka fansboy merek B bakal bicara miring akan produk aA. Ketika merek B juga mengeluarkan satu produk, maka fansboy merek A juga akan mencerca merek B. Fansboy itu bahasa populernya, kalau dalam istilah marketing, disebut sebagai Brand Advocate!

MMBlog jadi inget pas MMBlog kuliah dulu. Brand Advocate adalah level tertinggi dari tingkatan konsumen, bahkan lebih tinggi daripada Brand Loyalist. Brand Loyalist, hanya konsisten dan setia menggunakan produknya, tidak pindah ke lain hati. Kalau Brand Advocate, selain pengguna level konsumen ini juga menjadi pembela dari produknya. Yang lebihnya di puja, yang kurangnya dicinta! Yups, eksistensi mereka, ada plus minusnya baik itu untuk pabrikan, ataupun untuk konsumen.

Bagi produsen, jelas, Brand Advocate akan menjadi the ultimate and powerfull source of word of mouth marketing! Yups, segala macam kelebihan produk akan dijelaskan dengan detail, sedangkan kekurangnya, akan dijelaskan plus dikasih solusi yang menjadikan produk itu jadi tampak sempurna! Kekurangannya? Jika kelewat-lewat, Brand Advocate akan membuat Image eksklusif sebuah brand, kesannya brand itu tidak untuk semua orang, padahal produsen inginnya produknya adalah untuk semuanya.

sudah kudugaaaa

Bagi Konsumen, suara dari Brand Advocate dapat dijadikan referensi sebelum memutuskan untuk membeli sebuah produk. Belum lagi perang fansboy, segala macam kekurangan produk lawan akan dibeberkan! Tinggal temen-temen aja yang bisa memilah-milih, mana kekurangan yang tolerable, mana yang tidak! Tapi ada kurangnya juga, karena pada umumnya, Brand Advocate hanya mengetahui secara pasti dan detail akan produk yang ia puja, tidak ada eksperience mengenai produk lain, jadi reviewnya akan sangat subjektif! Sederhananya, gimana ente mau dapet review mengenai rasa kopi, kalau orang yang jadi nara sumber enggak pernah minum kopi atau enggak suka kopi??

Brand Advocate, sama sekali bukan oportunis. Rasa sukanya ya udah ada di dalam darah, gak bisa diganggu gugat, dan gak perlu diambil pusing. Yang perlu diambil itu bagi produsen ada “aktivasinya” dan bagi konsumen adalah “knowledgenya”. Terus, enak gak sih jadi brand advocate? Silahkan tentukan sendiri jawabannya masbro.

5 COMMENTS

  1. Jas jes jos doank, tetapi gak di beli ya sama saja namanya bukan brandadvocad, tapi sampah merek itu sendiri

    Sampah merek itu bisa di sebut sebagai fansboy kere, alas fby kaum marginal dan fbh kaum pingiran

  2. lbh bgus brand advokat dr pda bloger bayaran salah satu merk…
    pride dpt..klo nulis d bayar d stir itu lah yg gk baek…gk usah ngakuu ngakuu enjoy free riding motorcyclye…harusnya yaa free writing juga..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here