Bagaimana Kalau Kawasaki Indonesia Hanya Jual Kawasaki Z400? #YangMahalYangLaku

6

Sobat MMBlog sekalian, All New Z400 atau Z250 ternyata lumayan banyak mendapatkan sorotan. Sorotan doang sih, gak tau dah kalau produknya ada gimana sambutan aslinya, wkwkwk. soalnya, segmen motor dua silinder non fairing ini agak aneh. Dikasih motor enak, motor nyaman, kenceng, tapi kok malah penjualannya gak cemerlang? Nah, daripada begitu, gimana kalau sekalian aja kasih yang CC-nya lebih besar?

Kawasaki Z250 dua silinder, bisa dibilang penjualannya enggak terlalu sukses di tanah air. Hal ini juga dirasakan oleh Yamaha MT-25 yang penjualannya masih dibawah R25. Padahal, kedua motor ini sama sekali enggak ada yang salah. Kawasaki Z250 memang agak lebih segmented karena enggak total nakedbike-nya, tapi MT-25, lebih sedap, lebih streetfighter look, dan punya tingkat kenyamanan motor dua silinder terbaik saat ini. Aneh, malah versi fairingnya yang notabene bongkok lebih laris.

Ngomongin strategi dan realita pasar. Motor nakedbike dua silinder itu harus dikasih sesuatu yang unik. Menjadi pendamping saudara fairingnya, ternyata serta merta enggak ngangkat “derajatnya”, daripada begitu, gimana kalau sekalian aja main dengan kelas dan CC yang berbeda? Yups, sekalian aja jual Z400!

Angka “400” itu masih jadi angka keramat untuk sebuah nominal di CC- motor! 400 CC, masih bisa parkir di lobby mall dengan agak leluasa, tenaganya juga lebih serius, dan Pride-nya di mata khalayak masih tinggi. Dibanding 250, angka ini udah makin mainstream. Perkara harga? Gak terlalu sensitif, asal, tetep rasional. Setting di 90 jutaan kayaknya masih cakep. Jangan lebih, karena kalau melihat motornya, ini motor enggak “sespesial” ER4n atau Ninja 400 lawas yang menggendong dual cakram sebagai peranti rem depan.

Kalau sekarang Ninja 300 bisa dijual 87 jutaan, harusnya ya Kawasaki bisa lah setting Z400 diharga yang mirip-mirip. Gimana menurut-mu Sob? kalau 250 CC-nya gak laku, 400 CC-nya gimanaaa?

6 COMMENTS

  1. “Konsumen dah cerdas…pengen 4 slinder”

    perbedaan jumlah silinder ga cuma di suara doang mas. beda harga, beda biaya servis dll, beda karakter.
    kalo “cerdas” harusnya udh paham itu.
    mesin yang di riset pabrik gak serta merta mikirin JUMLAH SILINDER aja, tp dibuat sesuai kebutuhan pasar, nyaman buat harian, pengen irit, pengen kenceng, pengen biaya murah.

    skalipun nanti keluar yg beneran 4 silinder,
    belum tentu yang sering komen “yah 1 silinder/yah 2 silinder” bakalan beli.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here